Home » , , , » Benarkah Gunung Merapi Akan Meletus Besar Pasca Tertidur di Tahun 2017 ?

Benarkah Gunung Merapi Akan Meletus Besar Pasca Tertidur di Tahun 2017 ?

Merapi merupakan gunung api muda dalam kumpulan gunung berapi di bagian selatan Pulau Jawa yang dipengaruhi oleh zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia terus bergerak di bawah Lempeng Eurasia. Masih muda namun gunung Merapi menjadi salah satu yang paling aktif di dunia karena memiliki karakter masa tertidur pendek dengan siklus rata-rata antara 2-5 tahun setelah meletus.

Erupsi teranyar Merapi pada Oktober 2010 silam adalah salah satu aktivitas vulkanik besar dalam sejarah letusan Merapi. Aktifitas ini disebut-sebut melampaui erupsi pada bulan April tahun 1872 yang dianggap sebagai aktifitas terakhir dan terbesar dengan skala 4 VEI di abad 19 dan 20. Berdasar data BNPB melalui Sutopo Purwo Nugroho, Erupsi Merapi 2010 memuntahkan material lebih dari 140 juta meter kubik selama lebih dari 2 minggu, sementara letusan tahun 1872 hanya 100 juta meter kubik dengan durasi waktu 120 jam. Dengan volume material erupsi sebesar 100 juta meter kubik saja, maka indeks ekplosivitas sudah mencapai Vulcano Explocivity Index 4.

Dalam 100 tahun terakhir, letusan Merapi rata-rata hanya berada dalam kisaran indek 1-2 VEI diantaranya diselingi beberapa erupsi skala 3 VEI. Selain letusan besar skala 4 tahun 2010 dan 1872, diperkirakan Merapi pernah mencapai erupsi di indeks 5 hingga 6 yang konon menyebabkan hancurnya kerajaan Mataram Hindu dan mengubur candi-candi di sekitar Yogyakarta. Perkiraan ini merujuk pada hipotesa geolog Belanda Van Bemmelen yang ditandai oleh eksodus rakyat Mataram Kuno ke Jawa Timur sekitar Tahun 928-929 M.

Walaupun teori runtuhnya puncak Merapi oleh Van Bemmelen ini dianggap telah terbantahkan ( baca di link ini Merapi dan Kerajaan Mataram Kuno ) namun letusan gunung Merapi indeks 5 hingga 6 VEI diyakini sangat memungkinkan pernah terjadi berdasarkan data endapan, hanya belum diketahui secara pasti tahun kejadiannya. Baca juga Misteri Pengging dan Letusan Merapi

Statistik menunjukkan rata-rata Merapi meletus dalam siklus pendek yang terjadi berulang antara 2 – 5 tahun dan beberapa diantaranya berupa siklus menengah setiap 5 – 7 tahun. Namun dalam catatan modern kegunungapian diketahui Merapi pernah terlelap selama 18 tahun pada 1768 hingga 1786 dan siklus terpanjang (dugaan) pernah dicapai selama 71 tahun ketika jeda antara tahun 1587 sampai 1658 (Suparto S. Siswowidjojo, 1997).

Bencana letusan Merapi 2010 sendiri telah 6 tahun berlalu, seperti pada tahun sebelumnya, Oktober merupakan bulan peringatan "Bencana Merapi 2010" yang kali ini melahirkan spekulasi di kalangan awam bahwa konon jika tidurnya Merapi melewati batas 6 tahun maka akan ada letusan besar setelahnya. Benarkah Spekulasi bahwa Gunung Merapi Akan Meletus Besar Pasca Tertidur di Tahun 2017 ?

Untuk menjawabnya tentu tidak mudah, karena faktanya setelah terlelap lama pasca letusan Agustus 1768 dengan indeks 2 VEI, 18 tahun kemudian Merapi justru hanya meletus kecil pada bulan Juli 1786 dengan skala 1 VEI. Hanya saat istirahat selama 71 tahun antara 1587 sampai 1658 Merapi meletup dengan skala 3 VEI. Sementara erupsi 2010 yang berindeks 4 VEI justru setelah tertidur hanya 4 tahun.

Berikut catatan sejarah letusan gunung Merapi sejak tahun 1672 hingga 2010 dengan skala besar 3-4 VEI (Direktorat Vulkanologi Data Dasar Gunung api Indonesia 1979) :

4 Agustus 1672 skala 3 VEI. Sebelumnya Merapi diperkirakan terlelap 9 tahun. Berdasarkan naskah klasik Babad Tanah Jawi, konon letusan hebat 1672 menyebabkan langit di atas kerajaan Mataram Islam gelap gulita dalam 24 jam. Dikisahkan "Kala itu berbarengan dengan meletusnya Merapi, suaranya menggelegar menakutkan. Batu-batu besar beradu beterbangan bercampur api." Peristiwa tersebut terjadi saat kapal Marken milik Belanda sedang berlayar di Samudra Indonesia di sebelah selatan Kedu. Letusan Merapi ini memakan korban sekitar 3.000 orang.

27 Desember 1822-1823 perkiraan skala 3-4 VEI. Didahului erupsi 1820. Letusan yang sangat merusak menghasilkan kawah bulat berdiameter 600 meter. Imbasnya delapan kampung hancur diterjang awan panas dan material vulkanik.

4 tahun masa jeda setelah 1828, Merapi meletus 25 Desember 1832 skala 3 VEI. Digambarkan sebagai erupsi hebat tak terduga atau sangat tiba-tiba, disertai longsoran kubah dengan volume besar, dalam catatan disebutkan tanpa tanda-tanda. 5 tahun kemudian 10 Agustus 1837 meletus lagi dengan skala 3 VEI.

6 April 1846 – 2 September 1846 skala 2-3 VEI. Didahului letusan 1840. Erupsi besar menghasilkan kawah elips berukuran 200 x 150 meter. Awan panas menyapu kali Woro dan kali Gendol yang menyebabkan banyak korban jiwa. Kemudian berlanjut ke letusan 26 April - 14 September 1849 skala 2- 3 VEI. Terjadi 18 rentetan letusan yang menyebabkan terciptanya kawah berbentuk sepatu kuda berukuran 400x250 meter.

Hanya 3 tahun beristirahat pasca erupsi 1869 berindeks 2 VEI. Merapi meletus April 1872 skala besar berindeks 4 VEI. Letusan menghasilkan kawah berdiameter 480 – 600 meter. Rentetan letusan berlangsung selama 5 hari terdengar hingga Karawang, Madura dan Bawean. Awan panas menyapu melalui hampir semua hulu sungai yang ada di puncak Merapi yaitu Apu, Trising, Senowo, Blongkeng, Batang, Woro, dan Gendol. Awan panas dan material meluluh lantakkan desa – desa yang berada di atas elevasi 1000 meter. Pasca letusan besar 1872 Merapi masih meletus 1-2 VEI.

18 Agustus 1888 indeks 3 VEI. Didahului erupsi kecil 1883 dan 1885 skala 1 VEI. kemudian tahun 1897 indeks 3 VEI yang didahului erupsi 1894 skala 2 VEI. Setelah tenang selama 5 tahun sejak 1915, Merapi kembali aktif pada 25 Juli 1920 skala 3 VEI.
Letusan gunung merapi
Letusan Merapi 1920
Foto : Badan Geologi
Desember 1930 - September 1931 dan 1 Oktober 1933 skala 3 VEI. Rangkaian letusan ini didahului erupsi tahun 1924 skala 1 VEI. Letusan cukup besar menyemburkan lava yang merusak kubah. Awan panas menuju kali Senowo, Batang, dan Blongkeng. Serangkaian longsoran material mencapai radius 12 kilometer dan membentuk kawah sepatu kuda.
Jumlah korban mencapai 1.369 orang, menghancurkan 13 desa dan 23 desa lainnya rusak parah. Diperkirakan letusan inilah yang melenyapkan perkebunan teh yang dulu banyak berada di lereng Merapi. Letusan 8-9 Desember 1930 didahului hujan deras selama kurang lebih 3 jam. Aktivitas berakhir September 1931. Namun bencana yang menyusul kemudian adalah banjir lahar yang merusak banyak kawasan.

30 Mei 1942 skala 3 VEI. Didahului erupsi Desember 1939 skala 2 VEI. Kemudian 2 Maret 1953 - Desember 1958 skala 3 VEI. Didahului erupsi 1948 skala 2 VEI. Erupsi eksplosif 1953-1958 berupa ledakan preatik dengan ekstrusi kubah lava dan banjir lahar yang melanda banyak desa. Kemudian berulang kembali pada 11-20 April 1961 skala 3 VEI.

26 Oktober 2010 skala 4 VEI didahului erupsi 2006.
Menjadi erupsi terbesar dalam catatan sejarah modern gunung Merapi. Mengakibatkan sedikitnya 353 orang tewas, termasuk Mbah Maridjan. Ratusan ribu warga dipaksa mengungsi.

Kesimpulan
Dari catatan sejarah tersebut diatas diketahui bahwa gunung Merapi yang tertidur panjang tak serta merta menyebabkan terjadinya letusan besar atau letusan besar tak selalu didahului masa periode tidur panjang. Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Subandriyo menjelaskan, Merapi merupakan gunung api di dunia yang sering meletus. Namun, siklusnya tidak bisa ditebak alias tak teratur.

Referensi :
- Direktorat Vulkanologi : Data Dasar Gunung api Indonesia
- Global Volcanism Program (Smithsonian Institution National Museum of Natural History)
DMCA.com Protection Status
Copas Artikel Silakan Cantumkan link sumber
Share Artikel di Medsos
loading...
Follow Sosmed Jogja Uncover
Facebook Twitter
Terima Kasih Sudah Membaca Benarkah Gunung Merapi Akan Meletus Besar Pasca Tertidur di Tahun 2017 ?

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

Cari Artikel