Home » , , » Gempa Bumi dan Gunung Meletus, Mungkinkah Pulau Jawa Terbelah ?

Gempa Bumi dan Gunung Meletus, Mungkinkah Pulau Jawa Terbelah ?

Artikel ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya Ramalan Prabu Jayabaya dan Mitos yang Mendukungnya. Silakan dibaca dulu sebelum lanjut ke sesi dua ini.

Jawa terpisah dengan Sumatera
Letusan gunung Krakatau tahun 1883 bukanlah letusan yang telah memisahkan Jawa dengan Sumatera. Daya ledaknya diperkirakan 30-40 ribu kali bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Walaupun sangat dahsyat dan memicu tsunami dengan dentuman yang terdengar hingga Pulau Rodrigues dekat Afrika (4.653 km).

Tapi letusan berskala 6 VEI ini masih dibawah letusan Krakatau Purba (Ibu Gunung Krakatau sebelum 1883) yang meletus lebih dahsyat diperkirakan terjadi pada tahun 535, berskala 7 VEI dan menciptakan cekungan raksasa selebar sekitar 50 km yang diduga adalah kaldera produk Letusan Krakatau Purba (Wohletz, 2000).

Suara gemuruh letusannya terdengar hingga di Cina, anomali alam menimpa Korea dan Jepang, juga tercatat di kawasan pesisir Laut Tengah (Mediterania), hingga Romawi. Gunung Krakatau dianggap menjadi penyebab utama perubahan iklim, yang menyebabkan bumi memasuki abad kegelapan.

Cerita letusan Krakatau Purba membelah Jawa dan Sumatera terdapat dalam teks Jawa Kuno "Pustaka Raja Purwa" yang ditulis pujangga Jawa Ronggowarsito, pujangga besar terakhir di tanah Jawa pada 1869 di istana Kasunanan Surakarta, diperkirakan teks ini mengisahkan cerita pada peristiwa sekitar tahun 416 Masehi.

Salah satu baitnya menyebutkan :
“ Ada suara guntur yang menggelegar datang dari arah Gunung Batuwara dan Gunung Kapi. Ada pula gempa bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera ”

Kejadian alam yang menceritakan Gunung Batuwara diidentifikasi sebagai Gunung Pulosari sementara Gunung Kapi yang terletak di sisi barat Gunung Batuwara merujuk pada ciri-ciri Gunung Krakatau Purba.

Namun terpisahnya Jawa dan Sumatera dalam satu peristiwa super vulkanik tunggal ini ditolak oleh para ilmuan geologi.
• Ken Wohletz, mengungkapkan letusan yang memisah pulau itu kemungkinan sudah terjadi sejak puluhan ribu tahun lalu.
• Zeilinga de Boer dan Donald Theodore Sannders melalui penelitiannya menyimpulkan Krakatau pernah beberapa kali meletus hebat. Selat Sunda tidak tercipta oleh sebuah letusan tunggal besar. Tapi melaui periode letusan besar di Krakatau sekitar ratusan bahkan ribuan tahun lalu, bukan hanya pada tahun 416 Masehi. (Volcanoes in Human History, 2002)
• Indyo Pratomo (Geolog Museum Geologi) Pemisahan Jawa dan Sumatera terjadi karena gerakan tektonik.
• Mbah Rono (Surono PVMBG) seorang pakar senior gunung api Indonesia ini menyebut perbedaan gerakan arah Jawa dan Sumatera menyebabkan kedua pulau ini terpisah sehingga membuka kerak Bumi di Selat Sunda. Gerak rotasi dari lempeng mikro sunda kearah yang berlawanan dengan arah jarum jam

Pulau Jawa terbelah oleh patahan
Tak ada yang salah dengan pertanyaan @FauzNugrahaP di paragraf awal. Tulisan-tulisan tentang pulau Jawa terbelah memang sudah muncul sebelum gempa bumi Jogja Mei 2006 kemudian semakin populer sesudahnya dan berkembang menjadi mitos sekaligus ramalan. Ramalan ini dikenal sejak lama di kalangan masyarakat Jawa yang dilestarikan secara turun temurun.

patahan sesar jawa
Gambar : Blog Dongeng Geologi rovicky.wordpress.com
Tatanan tektonik daratan Pulau Jawa dipengaruhi oleh banyaknya keberadaan sesar aktif pemicu gempa bumi, yang paling fenomenal adalah sang legendaris sesar Opak Bantul. Patahan ini tak sendirian, masih ada Progo, Dengkeng, Oya dan sesar-sesar lain yang tersembunyi belum teridentifikasikan.

Selain di Jogja, patahan yang menghuni pulau Jawa masih ada banyak, diantaranya sebut saja Sesar Grindulu Pacitan, Kroya Cilacap, Baribis Subang, Cimandiri, Lembang Jawa Barat, Lasem Jawa Tengah, dan lain-lain. Termasuk sistem patahan besar Cilacap - Pamanukan - Lematang dan juga Kebumen - Muria - Pegunungan Meratus yang pernah diungkap oleh Awang Harun Satyana.

Pegunungan Meratus adalah pegunungan yang bentuknya memanjang di Kalimantan Selatan di arah TimurLaut Banjarmasin. Saya sendiri pernah menginjakkan kaki di pegunungan Meratus ini waktu menginap di perkampungan dayak Loksado saat usia masih sangat belia. Pegunungan meratus inilah yang terhubung dengan sistem patahan Jawa Tengah.

Sistem patahan besar Cilacap-Pamanukan-Lematang hampir sama membentang hingga lebih dari 1.000 km dari Nusakambangan ke arah barat laut melewati Pamanukan Jawa Barat, Laut Jawa, utara Kepulauan Seribu dan berakhir di Lematang Sumatra Selatan (Ma'rufin Sudibyo).

Patahan besar Kebumen-Muria-Meratus menjadi cikal bakal Pulau Jawa terbentuk dari bertemunya dua lempeng benua dan bagian barat Pulau yang diprediksi memiliki umur lebih tua dibanding bagian timurnya. Patahan besar purba Kebumen-Muria-Meratus kemudian menjadi batas di antara kedua bagian.

Komplek patahan besar Kebumen-Muria-Meratus yang dimitoskan bakal membuat pulau Jawa terbelah oleh gempa bumi ini membentang sepanjang lebih dari 1.000 km dari Tanjung Karangbolong menuju Muria dan berakhir di Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan. Diperkirakan sudah aktif sejak 60 juta tahun lalu kini sepenuhnya diyakini telah mati dengan menyisakan sub-fault muda yang masih aktif. Dibutuhkan sebuah trigger "super mega kolosal" untuk memicu jalur patahan besar purba yang telah mati ini agar aktif kembali dalam waktu dekat.

Seorang sumber menceritakan, mitos terbelahnya pulau Jawa ini akan terjadi tahun 2100 Saka atau tahun 2178 Masehi. Seandainya angka tersebut ditulis 2.178.000 tahun lagi atau 20.178.000 tahun kedepan saya akan manggut-manggut percaya. Karena saat itu wajah Jawa khususnya Bumi tentu sudah berubah dramatis. Tak hanya terpisah namun sangat mungkin tercerai-berai atau malah kumpulan pulau ini saling bertemu dan menyatu? Atau malah justru lenyap? Coba saja lihat gambar ini
bumi masa depan
Bumi 50 juta tahun yang akan datang
Seandainya gerakan tektonik lempeng yang terjadi saat ini
berlangsung terus hingga 50 juta tahun lagi.

Letusan Gunung Slamet Membelah Jawa
Tutup dulu kisah Gunung Slamet, mari menuju danau Toba. Kita buka bareng Google Earth lalu arahkan ke Sumatera. Selanjutnya buka lembar sejarah letusan dahsyat super volcano masa lalu ini.

Sebelumnya perlu diketahui dulu, bahwa di tengah daratan Sumatera terdapat Patahan Semangko dengan bentukan geologi yang membentang dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung berlanjut hingga ke perairan Selat Sunda yang berperan membentuk Pegunungan Barisan (Davies, 1987) sekaligus menjadi penyebab gempa bumi di daratan Sumatera. Patahan Semangko berusia relatif muda namun jauh lebih tua dari usia lerusan gunung Toba.
rovicky.wordpress.com

Retakan ini terbentuk pada periode Miosen Tengah atau sekitar 13 juta tahun lalu (Katili dalam The Great Sumatran Fault, 1967) sementara letusan mega super vulcano Toba "baru saja" terjadi pada 74.500 tahun silam.

Letusan gunung api Toba adalah peristiwa super volcano terdahsyat yang pernah terjadi di Bumi dalam kurun 27,8 juta tahun terakhir energinya setara dengan 21 juta butir bom nuklir Hiroshima diledakkan secara bersama-sama di satu titik.

Artinya?
Jika letusan Toba yang berdiri diatas patahan Sumatera saja tak mampu membelah pulau tersebut lalu bagaimana dengan gunung "Kecil" Slamet?! Kecil?! Ya kecil. Seandainya kaldera danau Toba di angkat, lalu diletakkan diatas Jawa Tengah maka diameter kaldera bekas letusan Gunung Toba jaraknya setara perjalanan dari Purwokerto sampai Magelang (Silakan cek google Earth) Nah sekarang tinggal bandingkan dengan gunung Slamet. Ya, tentu tak sebanding. Bahkan besarnya letusan Toba ini tak sanggup disamai oleh Rinjani, Tambora dan Krakatau yang juga pernah meletus dahsyat tersebut.

Apakah dimasa purba pulau Jawa pernah ada gunung api yang meletus sekolosal Toba? ADA. Yaitu Letusan Purba Gunung Api formasi Semilir termasuk Nglanggeran yang kini jadi objek wisata Gunung kidul. Sayangnya terjadi sekitar 36 hingga 30 juta tahun silam, hingga sulit untuk membuktikan letusan ini telah atau mampu membelah permukaan tanah pada masa itu. Prasetyadi (Peneliti UPN Yogyakarta) yang dilansir Kompas menyebutkan para ilmuan menemukan jejak letusannya setara dengan Toba muda 74.000 tahun silam karena memiliki kemiripan material sisa letusan yang menyebabkan Bumi berada di zaman kehancuran.

April 1815 Gunung Tambora meletus dengan skala 8X lebih besar dibanding Krakatau tahun 1883. Energinya setara dengan lebih dari 1 Juta ++ butir bom atom Hiroshima yang diledakkan bersamaan, membentuk lubang sedalam 1.250 meter, inilah kaldera terdalam produk gunung api di muka Bumi. Letusan ini disebut sebagai salah satu peristiwa yang telah merubah iklim dunia (National Geographic).

Gunung Rinjani di Pulau Lombok juga meletus bahkan jauh lebih besar di tahun 1258 (Proceedings of the National Academy of Sciences). Suhu kala itu turun drastis menyebabkan perubahan iklim mendadak di abad pertengahan untuk wilayah Eropa dan sekitarnya (Clive Oppenheimer dikutip BBC September 2013).

Sekarang mari kita terbang ke atas Gunung Rinjani dan Tambora, tak perlu naik pesawat. Mahal :D cukup arahkan Google Earth yang tadi kita pakai untuk melihat Danau Toba dan Jawa Tengah sebelumnya. Perhatikan apa yang terjadi di kedua pulau ini? Apakah ada bekas permukaan bumi yang terbelah? apakah pulaunya terbagi dua? Mungkin ini bisa kita gunakan untuk menjawab " Apakah Letusan Slamet bisa membelah Pulau Jawa? ".

Tambahan :
Surono (PVMBG) atau yang biasa saya sebut Mbah Rono. Membantah mitos ini, dan mengatakan tidak mungkin Gunung Slamet mampu membelah Pulau Jawa dengan kondisi magma encer, tidak kaya dengan gas dan tidak ekslusif seperti Gunung Merapi dan Kelud.

Arti " Memotong tanah Jawa "
Hanya sekedar bahan renungan, apakah "Memotong" Atau "Terbelah" sebenarnya kiasan sosial dan politis ? menggambarkan kondisi sosial masyarakat Jawa (Indonesia) yang kelak akan berbeda haluan dan terbagi dua keyakinannya akan suatu pandangan Politik? Ataukah ini peringatan agar rakyat selalu bersatu? Wallahu'alam.

Penutup :
Ramalan Jayabaya atau biasa disebut Jangka Jayabaya sering disalahgunakan atau sengaja disalahartikan oleh kepentingan tertentu, entah untuk tujuan apa. Sebut saja mitos yang sering kita dengar terkait kemunculan "Lintang Kemukus" yang digadang-gadang merupakan pertanda akan datangnya bencana besar di tanah Jawa. Khusus mitos "Lintang Kemukus" akan @Jogja_Uncover ungkap fakta dan bukti sejarahnya pada kesempatan selanjutnya. Segera.
DMCA.com Protection Status
Copas Artikel Silakan Cantumkan link sumber
Share Artikel di Medsos
loading...
Follow Sosmed Jogja Uncover
Facebook Twitter
Terima Kasih Sudah Membaca Gempa Bumi dan Gunung Meletus, Mungkinkah Pulau Jawa Terbelah ?

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

Cari Artikel